Tuesday, October 6, 2020

LESSONS ON MENTAL HEALTH FROM ORIGINAL SERIES NETFLIX'S

'IT'S OKAY TO NOT BE OKAY'

           

Drama korea yang dibintangi oleh Kim Soohyun (Gang Tae) , Oh Jungse (Sang Tae), Seo Yeji( Moon-young) dan lainnya ini cukup mengguncang jagat raya ini, dimana genre yang mereka sajikan tidak seperti kebanyakan drama lainnya. Drama ini Mengangkat tema psikologi yang diangkat dari kehidupan nyata. Selain itu, drama ini seakan membersamai dalam menyembuhkan luka luka kehidupan (Human Healing).

            Pelajaran pertama yang dapat kita ambil dari drama ini adalah Don't judge a person by its cover. Diceritakan di sini Ko Moon Yeong terlihat dari luarnya begitu kejam, tidak peduli, mudah marah, dsb. Ternyata dibalik itu semua menimpang trauma pada saat kanak-kanak dan hubungan yang mengerikan dengan ibunya.Sering kali kita dengan mudahnya menilai seseorang hanya dengan melihat penampakan luarnya. Tentu saja hal itu harus kita hindari, karena setiap orang memiliki keunikan dan masalah tersendiri yang tidak kita ketahui.

            Pelajaran kedua, dare to Speak Your Mind and Express Yourself.  Diam memang emas namun tidak semua permasalahan diselesaikan dengan diam. Speak up ketika kamu merasa tertekan, kamu merasa benar yang disalahkan, ketika kamu sedih karena diabaikan dan dipandang rendah. Jika kamu hanya diam, menumpuknya, suatu saat tentu akan terluapkan. Skenario terburuknya, peluapan emosi terjadi saat yang kurang tepat seperti kisah Kwon Ki-do dalam drama ini.

            Selanjutnya yang keempat, trauma must be faced, not avoided. Cara terbaik untuk mengatasi sebuah trauma adalah dengan menghadapi rasa trauma itu. Meski awalnya terasa sangat menakutkan, namun kamu akan merasa jauh lebih baik setelah menghadapinya.

            Pelajaran ketiga adalah count up to three before making a decision. Moon-Yeong punya kesulitan mengendalikan emosinya, dan tindakannya juga impulsif. Gang-tae pun mengajarkan Moon-Yeong soal metode pelukan kupu-kupu dan berhitung sampai tiga untuk menenangkan diri dan menghindari keputusan yang terburu-buru.

            Dan yang terakhir adalah keep your happiness. Keadaan yang tidak terduga terkadang memengaruhi kebahagiaan kita,namun jangan biarkan orang lain atau peristiwa apa pun mengambil kebahagiaan kita.

            Ada satu kutipan dari drama ini yang maknanya sangat mendalam, “Everyone has their own struggles, and it’s OK to struggle. There’s no shame in admitting that you need help, and it’s the first step to becoming OK.”

Judul serial original Netflix ini menjelaskan semuanya. Kisah setiap karakter di It’s Okay to Not Be Okay” menekankan bahwa setiap orang dihancurkan dengan caranya sendiri, dan tidak apa-apa untuk tidak selalu baik-baik saja. Seseorang akan dapat mengatasi luka psikologis mereka selama mereka berkomunikasi dan mencari bantuan. Seperti yang dilambangkan oleh kupu-kupu di sepanjang episode, penyembuhan emosional akan datang seiring dengan waktu dan upaya.

Saturday, October 3, 2020

 Aku dan Segala Problematika Hidupku

    Fat Man dan Liltle Boy, bagi orang-orang Jepang, kala itu adalah mimpi buruk. Namun, disisi lain bom tersebut merupakan mahakarya yang didasari teori ilmiah Albert Einstein dan memberikan Amerika Serikat kemenangan pada Perang Dunia ke-2. Dari sinilah aku mulai memaknai arti kehidupan, benar, hidup bukanlah ujian pilihan ganda, namun jika kita hidup, kita akan selalu membuat pilihan. Selama 19 tahun ini, tentu saja sudah banyak keputusan yang aku ambil dari sebuah pilihan, entah berakhir bersyukur atau insecure bahkan penyesalan. 

    Semua orang pernah mengalami keadaan terpuruknya masing-masing, begitu pun denganku. Terbaring di atas kasur rumah sakit selama 10 hari dengan keadaan patah tulang pergelangan tangan dan kedua tulang pipi, cukup membuatku frustasi. Wajah yang tidak lagi simetris tentu sangat menyebabkan insecure yang terlalu dalam. Fakta bahwa good looking menguasai segalanya tidak dapat dipungkiri. Mencoba mendoktrin diri untuk selalu bersyukur terkadang pun malah memperparah keadaan. 

    Lalu? Bagaimana? Seperti yang aku katakan di atas, ini hidup, kita harus memilih.  Insecure itu perlu tapi dalam takaran yang sangat sedikit. Namun jika tidak diimbangi dengan bersyukur yasudah rasakan insecure sampai menghancurkan dirimu sendiri. Karena insecure tidak akan menyelesaikan masalah. I

    Seiring berjalannya waktu, akupun menyadari, hal tersulit dari sebuah pilihan bukanlah memilih. Namun, mempertahankannya. Aku juga tidak pernah tahu, setelah pengeboman Hiroshima dan Nagasaki, Einstein akan bangga atau menangis menyesal karena berasal dari teorinya, bom atom tersebut telah membunuh ribuan penduduk dan meluluhlantakkan suatu negara.

    Tetapi aku yakin, jika aku memegang erat tujuan yang ingin aku capai, pilihan yang telah aku putuskan tidak pernah goyah. Jika anda bertanya mengenai ‘apakah tujuanku?’. Tentu saja rencana kehidupanku hari ini, esok hari, sebulan ke depan, tahun depan atau bahkan 10 tahun lagi. Tujuan yang membangunkanku di sepertiga malam untuk melangitkan puluhan doa, membuatku bersemangat saat membuka mata di pagi, tujuan yang membuatku rela over screen time, menguras keringat untuk selalu belajar, membantu berdiri dalam keterpurukan, dan tujuan yang suatu hari nanti akan membuat ayah dan ibu saya menangis bahagia. 

    WINNER or LOSER, itulah motto hidupku. Sejak kecil, aku dididik untuk selalu menjadi seorang pemenang. Pemenang bukan  berarti tidak pernah kalah. Justru dari kekalahan tersebut akan membentuk kita menjadi pemenang yang sesungguhnya. Selalu bekerja keras dan pantang menyerah, selalu mencoba dan mencoba lagi. Untuk apa? Karena aku telah merasakan bagaimana rasanya takut gagal saat mencoba, atau gagal saat sudah mencoba. Dan rasanya sungguh sakit sekali ketika rasa takut mengalahkan ambisi untuk meraih tujuan. 

    Begitulah pecundang bekerja. Cukup untukku menjadi pecundang sekali saja, cukup sekali saja hidupku berantakan. Dan karena aku adalah pemenang dan akan menjadi pemenang, aku akan bangun, menatap hari esok dengan tidak melupakan apa yang sudah terjadi kemarin.

    Berbekal dengan pengalaman tersebut, aku yakin dan percaya pada diriku sendiri, aku akan mewujudkan apa yang sudah menjadi tujuanku, karena aku paham dengan diriku dan aku tahu apa yang aku inginkan dan mengerti langkah apa yang harus aku tempuh. Beginilah caraku untuk menyayangi diriku sendiri. Karena ini adalah hidupku, semua ini adalah pilihan dan ini pilihanku.

    Aku tidak akan pernah berjanji tapi aku akan berusaha keras untuk menjadi versi terbaik dari diriku, aku siap untuk belajar, aku siap untuk mempersembahkan.


 

 

LESSONS ON MENTAL HEALTH FROM ORIGINAL SERIES NETFLIX'S 'IT'S OKAY TO NOT BE OKAY'             Drama korea yang dibi...