Saturday, October 3, 2020

 Aku dan Segala Problematika Hidupku

    Fat Man dan Liltle Boy, bagi orang-orang Jepang, kala itu adalah mimpi buruk. Namun, disisi lain bom tersebut merupakan mahakarya yang didasari teori ilmiah Albert Einstein dan memberikan Amerika Serikat kemenangan pada Perang Dunia ke-2. Dari sinilah aku mulai memaknai arti kehidupan, benar, hidup bukanlah ujian pilihan ganda, namun jika kita hidup, kita akan selalu membuat pilihan. Selama 19 tahun ini, tentu saja sudah banyak keputusan yang aku ambil dari sebuah pilihan, entah berakhir bersyukur atau insecure bahkan penyesalan. 

    Semua orang pernah mengalami keadaan terpuruknya masing-masing, begitu pun denganku. Terbaring di atas kasur rumah sakit selama 10 hari dengan keadaan patah tulang pergelangan tangan dan kedua tulang pipi, cukup membuatku frustasi. Wajah yang tidak lagi simetris tentu sangat menyebabkan insecure yang terlalu dalam. Fakta bahwa good looking menguasai segalanya tidak dapat dipungkiri. Mencoba mendoktrin diri untuk selalu bersyukur terkadang pun malah memperparah keadaan. 

    Lalu? Bagaimana? Seperti yang aku katakan di atas, ini hidup, kita harus memilih.  Insecure itu perlu tapi dalam takaran yang sangat sedikit. Namun jika tidak diimbangi dengan bersyukur yasudah rasakan insecure sampai menghancurkan dirimu sendiri. Karena insecure tidak akan menyelesaikan masalah. I

    Seiring berjalannya waktu, akupun menyadari, hal tersulit dari sebuah pilihan bukanlah memilih. Namun, mempertahankannya. Aku juga tidak pernah tahu, setelah pengeboman Hiroshima dan Nagasaki, Einstein akan bangga atau menangis menyesal karena berasal dari teorinya, bom atom tersebut telah membunuh ribuan penduduk dan meluluhlantakkan suatu negara.

    Tetapi aku yakin, jika aku memegang erat tujuan yang ingin aku capai, pilihan yang telah aku putuskan tidak pernah goyah. Jika anda bertanya mengenai ‘apakah tujuanku?’. Tentu saja rencana kehidupanku hari ini, esok hari, sebulan ke depan, tahun depan atau bahkan 10 tahun lagi. Tujuan yang membangunkanku di sepertiga malam untuk melangitkan puluhan doa, membuatku bersemangat saat membuka mata di pagi, tujuan yang membuatku rela over screen time, menguras keringat untuk selalu belajar, membantu berdiri dalam keterpurukan, dan tujuan yang suatu hari nanti akan membuat ayah dan ibu saya menangis bahagia. 

    WINNER or LOSER, itulah motto hidupku. Sejak kecil, aku dididik untuk selalu menjadi seorang pemenang. Pemenang bukan  berarti tidak pernah kalah. Justru dari kekalahan tersebut akan membentuk kita menjadi pemenang yang sesungguhnya. Selalu bekerja keras dan pantang menyerah, selalu mencoba dan mencoba lagi. Untuk apa? Karena aku telah merasakan bagaimana rasanya takut gagal saat mencoba, atau gagal saat sudah mencoba. Dan rasanya sungguh sakit sekali ketika rasa takut mengalahkan ambisi untuk meraih tujuan. 

    Begitulah pecundang bekerja. Cukup untukku menjadi pecundang sekali saja, cukup sekali saja hidupku berantakan. Dan karena aku adalah pemenang dan akan menjadi pemenang, aku akan bangun, menatap hari esok dengan tidak melupakan apa yang sudah terjadi kemarin.

    Berbekal dengan pengalaman tersebut, aku yakin dan percaya pada diriku sendiri, aku akan mewujudkan apa yang sudah menjadi tujuanku, karena aku paham dengan diriku dan aku tahu apa yang aku inginkan dan mengerti langkah apa yang harus aku tempuh. Beginilah caraku untuk menyayangi diriku sendiri. Karena ini adalah hidupku, semua ini adalah pilihan dan ini pilihanku.

    Aku tidak akan pernah berjanji tapi aku akan berusaha keras untuk menjadi versi terbaik dari diriku, aku siap untuk belajar, aku siap untuk mempersembahkan.


 

 

No comments:

Post a Comment

LESSONS ON MENTAL HEALTH FROM ORIGINAL SERIES NETFLIX'S 'IT'S OKAY TO NOT BE OKAY'             Drama korea yang dibi...